Toko Buku Bagus, atau Lengkap?

Picture: beachedmiami

Akhir 2010, toko buku Borders yang sohor itu makin berdarah-darah.  Buruknya bisnis mereka sampai harus menunda pembayaran kepada penerbit. Padahal sejumlah cabang sudang ditutup. Rak-rak buku makin banyak yang kosong, lalu diisi dengan mainan anak-anak.  Begitu burukkah?

Jadi inget QB di Jakarta, periode kebangkrutan tahun 2006 lalu… Mix feeling, sedih keilangan spot asik di Jakarta tapi seneng bisa belanja buku-buku impor dengan diskon hampir 70 persen .

Borders, jelas bukan satu-satunya toko buku yang berjibaku tahun lalu. Banyak toko buku bangkrut. Kehadiran pembaca buku elektronik(e-reader) disebut-sebut sebagai salah satu penyebab. analisis kebangkrutan toko buku, googling sendiri ya.. hehehe

Karena sekarang aku lagi kepingin nge-blog tentang toko buku bagus– bukan toko buku online ya.

Toko buku bagus itu sebenarnya toko yang kayak apa sih? yang besar? yang lengkap? yang buku-bukunya murah? atau malah toko yang cuma jual  buku-buku bagus?

Toko buku yang lengkap, menjual semua jenis buku dengan segala jenis rating. Dari yang sekadar ‘buku kliping’ sampai mahakarya.  Di jenis toko buku ini, sebetulnya yang layak dibeli dan dibaca paling-paling enggak lebih dari 20%(prinsip pareto).  Tapi karena berpegang pada ‘setiap buku punya pembacanya sendiri’ maka pemilik toko buku jenis ini sudah memperhitungkan untung ruginya menjual buku-buku bermutu dan tidak bermutu tapi disukai. Aku sendiri, jenis orang yang pusing berat jika masuk toko buku lengkap ala Gramedia. Too much choices, too much noise.

Toko buku murah. Diskon tiap hari ala Toga mas? Ya, tentu saja semua suka buku murah. Maksudku, harusnya buku-buku itu memang dibandrol cukup murah. Jadi yang gajinya dibawah tiga juta dan hidup di Jakarta pun bisa beli buku agak leluasa. Tapi kadang-kadang, buku-buku yang didiskon itu seringkali buku-buku yang enggak bagus-bagus amat. Lantas karena murah,  kita pikir, ya lumayanlah, beli aja, toh murah, yang penting bisa baca.  Makanya saat diskon besar di pameran buku, banyak yang belanja. Ngeborong buku sampai berkantong-kantong. Mumpung murah, jadi nimbun deh. Kapan bacanya ya lihat nanti aja ya. Aku sendiri punya buku yang belum dibaca sampai sekarang, masih diplastik!! -hasil pameran buku di Senayan setaun lalu. Haha! Ini perkara serakah, bukan tentang minat baca yang sedang tinggi.

Hm.. toko buku bagus. Hm, ada gag toko buku yang benar-benar pasang palang  ‘hanya menjual buku-buku bagus’?Hahaha… kalau ada, keren juga. Maksudku, pasti toko buku macam itu bener-bener dicap sombong. hihihi. La soalnya, bagus itu menurut siapa? Jadinya subyektif banget kan. Buku yang punya banyak pembaca belum tentu bagus, loh. Buku bagus itu apa? Apa saja parameternya? Kan jadi harus ada grup kuratornya gitu kan.. hahaha.. jadi sok ekslusif banget gitu lah. Pasti bakal dicaci maki, apalagi oleh mereka yang ngotot di jalur indie — enggak semua penulis indie buruk , dan tentu saja ada penulis indie yang jelek banget tapi enggak ngerasa makanya enggak mau diedit dan ngotot nerbitin sendiri–

Aku sendiri suka toko buku yang berkarakter. Halah..

Maksudku, toko buku itu punya nafas sendiri, punya jiwa. Aku suka sih toko buku Strand di Broadway, NYC itu. Tokonya seru bener, sampai ada rak berlabel ‘hardcopy yang belum diedit’ dan ‘buku-buku yang baru dinilai” dengan segala blok hitam dan catatan kenapa buku itu perlu revisi untuk diterbitkan.

Threelives and company

Tapi, aku lebih suka Three Lives and company.  Nama toko ini mengingatkan pada buku Three Lives-nya Gertrude Stein. Letak toko ada di kawasan Greenwich Village, NYC. Ambience-nya enak, dan orang-orang yang kerja disana kentara betul suka baca.  Its feel like a living room with plenty of books, really. Oasis di belantara beton Manhattan.  Di London juga ada beberapa toko buku macam begitu. Yang khusus jual buku-buku musik, buku-buku film bahkan buku-buku resep. Asik banget.

Aku pikir, di Indonesia ini perlu juga banyak toko-toko buku semacam itu. Aku pikir Homerian di Yogyakarta sudah ke arah itu, pasti bakal asyik kalau lebih banyak yang sejenis itu. Toko-toko buku kecil yang hangat, yang spesifik dan punya banyak acara. Trus ada di sepanjang jalan. Misalnya di daerah mana gitu lah, sepanjang jalan penuh ama toko-toko buku kecil itu… seperti jalan dago yang disesaki FO itu lah… Hihi.. kalau aku bisa, kubeli saja tanah dan bangunan sepanjang jalan di mana gitu lah… trus kusewakan untuk orang-orang pecinta buku yang mau berbisnis membangun toko buku.

Haha, bakal asik banget, kan. Oh iya, kalau kamu suka toko buku macam apa?

 

 

 

 

4 thoughts on “Toko Buku Bagus, atau Lengkap?”

  1. Aku suka yg murah ala Togamas juga, tapi jangan kebanyakan barangnya (noise and choice definitely two minus issues), dan sudah pasti isinya mesti cocok sama selera. Lapak charity shop di London buanyak banget yg isinya kayak gini, buku-2 umur setahun dua atau malah gres baru terbit sering nemu. Harga 1-3 pound doang. Cuma susahnya pas mau balik Jkt Nyah, ampun dah, pilih bawa baju, suvenir, buku apa bayar extra baggage?

  2. halo, saya dulu suka bgt ke toko buku QB yg di thamrin-sarinah, suasananya nyaman bgt. tiap abis kuliah pasti ke sana walo ga beli bukunya. hanya liat2 aja. sempet jg ngerasain cuci gudangnya!
    rasanya senang berada di antara rak2 buku, hehe.. kadang kangen jg pergi ke toko buku kecil, beli buku2 yg unik.. :)

    oiya, nyasar ke sini gara2 googling ‘toko buku kecil” :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s