ipad-ibooks

Cetak Buku Secepat Order Kopi

Nunggu kopi dibuat barista, bikin Nyonya Buku inget Espresso Book Machine. Itu loh, mesin cetak yang sanggup mencetak buku secepat kilat. Satu buku setebal 300 halaman gitu gag nyampe lima menit.

Plus, EBM akan membuat penulis terhindar dari kutukan 3000 eksp. Karena bisa nyetak berapa aja.Jadi penulis cukup majang cover dan sinopsis buku mereka di sebuah toko online, lalu ketika ada yang beli ya baru dicetak. Praktis kan.

Bukunya Kopinya silahkan….”

Espresso Book Machine -Foto:AP

Espresso Book Machine(EBM) digagas perusahan On Demand Books. Jason Epstein, direktur perusahaan berbasis di New York itu meyakini EBM akan merevolusi industri penerbitan seperti halnya mesin cetak Guttenberg pada abad 15 di Eropa.

Keyakinannya bukan bualan sembarangan. Sebelum mengepalai On Demand Books, Epstein lebih dulu menjadi direktur editorial di perusahaan penerbitan Random House. Dia bekerja disana selama 40 tahun jadi tahu betul dunia penerbitan buku.

Esptein menyebut EBM sebagai mesin ATM untuk buku dengan kualitas buku-buku paperback yang dikoleksi perpustakaan. Epstein meyakinkan bahwa buku yang dicetak menggunakan EBM memiliki kualitas cetak yang prima, dengan jilidan dan lem yang baik. Apalagi, kinerja EBM juga cepat. Mesin itu mampu mengkonversi file PDF menjadi buku setebal 300 halaman selama EMPAT MENIT saja. WOW!


Mahalkah?
Epstein bilang biaya cetak dengan EBM hanya 1 penny satu halaman. Itu sudah termasuk hitungan buku menggunakan sampul berwarna. “Ini sempurna untuk universitas, perpustakaan, penerbit indie dan perusahaan yang membutuhkan penerbitan saat pameran, misalnya,” katanya.

Adapun harga EBM, berdasarkan laporan Reuters, dibanderol sekitar US75.000. wuidih… berarti sekitar Rp750 juta dong ya. hm.. kalau masuk Indonesia, plus pajaknya berapa ya? hehehe

😀

Pada era digital ini, Epstein mengakui bagaimana agresifnya buku-buku elektronik memasuki kehidupan manusia. iPad misalnya telah menyediakan buku-buku elektronik melalui aplikasi iBooks. Tapi Epstein berkeyakinan, buku-buku konvensional masih disukai.  “Saya pikir gadget khusus untuk membaca seperti Kindle ataupun Sony e-reader bisa tergantikan dengan gadget seperti iPad.  Orang yang senang membaca buku secara online akan memilih perangkat itu. Tapi bagaimanapun juga, kebanyakan orang masih suka buku fisik,” kata Epstein.

ipad-ibooks

Ya, dia benar. Walau Nyonya Buku terbiasa dengan internet dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca berita, makalah dan buku di layar monitor tapi teteeeppp saja lebih nyaman memiliki buku fisik. Kertasnya bisa ditulis sesuatu, kata-kata penting bisa digarisi dengan bernafsu, dan setiap melihat buku itu, Nyonya Buku pasti mengingat peristiwa seputar waktu membaca. Buku menjadi semacam monumen melawan lupa.

Hm.. jadi kapan dong EBM ada di Indonesia ya?

Link:
1. Tulisan Jason Epstein di New York Review of Books tentang dunia penerbitan di masa depan

2. Wawancara Epstein di Forbes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s