Kaas - Keju - Willem Elsschot

Roman Klasik :Keju -Kaas

Kaas - Keju - Willem Elsschot

Ya, judulnya emang cuma gitu, Keju. Ke-ju.

Buku roman klasik ini kecil saja. Desain sampul nya simple, lelaki bertopi membawa keju edam di kedua tangannya. Salesman. Dia, salesman keju pascaperang dunia. Memulai karier sebagai penjual keju di usia 50an dan gagal.

Tentu saja, kehidupan bukan melulu tentang sukses, tentang keberhasilan dan gelimang uang.Dan bagian tak menyenangkan itu yang dipilih penulisnya, Willem Elscchot sebagai kisah.

Kisah ini, gelap. Tapi saya sih enggak merasa tertekan saat membaca. Willem menulis kisah dengan detil dan sinis. Dari penulisan Willem, si lelaki yang menjadi bintang sampul, tergambar betul kikuk dan canggungnya. Ini poin yang saya suka dari gaya pengisahan Willem.

Adalah Frans Laarmans yang menjadi sentral kisah ini. Dia kerani, lalu berupaya menjadi pedagang keju, lantas jadi kerani lagi. Kenapa?

Karena sebagai kerani dia merasa kariernya mandek. Enggak bisa kemana-mana lagi lantaran enggak mungkin menggeser si bos (pemilik) dan bawahan si bos-yang berarti atasannya– yang sudah bercokol di perusahaan itu bertahun-tahun.

Awalnya Frans punya kehidupan yang ia pikir cukup normal. Kegelisahan atas hidup baru muncul setelah mengenal Mijnheer Van Schoonbeke. Frans bertemu Schoonbeke saat pemakaman ibunya. Schoonbeke ialah teman sekaligus pasien abang Frans yang menjadi dokter. Schoonbeke orang kaya dan terpandang di Antwerp.

Bergabung dengan kelompok teman-teman Schoonbeke, membuat Frans tertekan. Suasana hatinya campur aduk saat harus duduk bersama-sama kelompok yang selalu menilai orang dari materi, yah seperti bayangan awam ttg kelompok elite orang kaya kota lah. Dia terlibat di kelompok itu karena ‘terbawa’ abang nya.

Adapun abang Frans yang dokter itu, tidak mengalami sindrom minder. Dia dokter. Di sana, tahun 1930-an (kisah ini terbit 1933) dokter masih dianggap suci seperti pendeta. Jadi meski dokter tak punya harta sekalipun, dia masih kaum terpandang, masih termasuk kelompok elite. Beda dengan kerani semacam Frans.

Hingga kemudian ia menjajal peruntungan sebagai pedagang keju.  Bisnisnya tidak berjalan mulus lantaran Frans tidak pernah punya pengalaman apapun tentang menjual. Dia terlalu sibuk dengan fantasinya sebagai bos, dan ketakutan setengah mati ketika harus menawarkan keju.

Frans bahkan sampai harus bersembunyi ketika Bos Besar saudagar keju edam mengunjunginya untuk mengetahui perkembangan bisnis.Frans yang lugu itu ketakutan setengah mati dan akhirnya memutuskan kembali menjadi kerani yang ‘begitu-begitu saja’.

I love this story karena pergulatan emosi manusia bisa digambarkan apik tanpa terasa bertele-tele. Alih bahasanya juga lumayan tak mengganggu. Nice story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s