Pindah rumah

Mau pindahan niiiihhhh…..:D

Kali ini ke daerah pesanggrahan. Rumahnya ‘sekepal’, cuma 30an meter. Di kompleks dengan kebanyakan penghuni merupakan keluarga muda.

Me?

Rumah itu cuma untukku sendiri. dan buku-buku… dan mungkin seekor anjing pug. Yihuyyy..๐Ÿ˜€

So, pekerjaan utama tentu saja packing. Dus-dus Aqua botol dan gelas jadi kotak penyimpan buku yang selama ini di rak terbuka. Sudah 10 kotak, sekitar 400an buku, dan ugh..belum selesai juga.

Biar gampang, sekalian aku kategorikan saja. Baru deh ketauan buku-buku apa saja yang kupunya. Kebanyakan fiksi dan ilmu sosial. Lalu ada craft book dan buku-buku bisnis.Eh, ada juga sekotak buku anak-anak. Favoritku Roald Dhal, Judy Blume, Enid Blyton dan Astrid Lingrend.๐Ÿ˜€

Sembari ribet packing, aku cari cari juga inspirasi nata ruang makan sekaligus living room dan perpustakan pribadi. Nemu banyak banget foto-foto ruang baca orang-orang yang kereeennnnn!

Misalnya ini nih…

Yang ini punya pasangan mantan wartawan aun dan sulyn di Singapura. Rak bukunya terkesan kokoh karena pakai besi. Plus plafon tinggi jadi bisa dibuat mezanin buat ngelanjutin si rak buku.

Kerennn… tapi, hiks.. plafon rumah baruku kan enggak setinggi itu. hehehe.

Trus sofa panjang item itu kok kayaknya kurang nyaman ya.. enggak enak buat tiduran. :p

Ini apartemen di Brooklyn, NY. Aduh, aku lupa punya siapa. (Amppuunnnn!). Meja putihnya padu dengan rak buku yang putih. Lantai senada dengan kursi. Bagus sih, kesannya jadi lapang. Putih gitu loh!

Ini punya Alex ben meyer. Sebetulnya sih biasa aja ya. Mejanya biasa banget. Tapi aku suka detil di dinding itu. Alex membingkai cover buku-buku favoritnya sebagai pemanis dinding. Ruangan ini ialah bagian dari kantornya. Kesannya informal tapi tetep rapi.

Hm.. ini juga aku lupa punya siapa dan dimana. Yang asyik, rak bukunya putih dan menjulang sampai langit-langit ruang. Jadi menjelma sebagai dinding penuh ornamen.ย  Tapi kalo mau numpukin rak sampai langit-langit rumah, mesti berhitung juga dengan ketinggian plafon, kali ya. Kalau enggak terlalu tinggi, jadinya malah sumpek.

Nah, sebetulnya aku paling suka model ‘berantakan yang hangat’ seperti di apartemen John Jason ini. Sofa tunggal yang empuk, plus ornamen penghias. Ini jenis sarang yang aku suka.๐Ÿ˜€

Ini juga asik. tapi butuh ruang sangatttttt lapang. Rak enggak dibuat sepenuhnya nutup dinding sampai langit-langit rumah. Ada sisa ruang untuk ‘bernafas’ di sisi kanan.

Lagi lagi putih๐Ÿ˜€. Mejanya keren. Karena pake kayu begitu jadi stunning dan bener-bener jadi atensi ruangan. Enggak terlalu suka ama kursinya sih, tapi seneng liat ‘gua’ di atas. Nyaman sekali sepertinya..๐Ÿ˜€

Ini punya Abby Clawson. Liat raknya, dari besi yang banyak dijual di toko bangunan. Rak-rak itu kayak punyaku juga sih, dibikinin papa๐Ÿ˜€. Sempat protes karena ambalannya menurutku kelebaran sehingga kurang efisien. Tapi melihat foto ini, rak itu bisa diaplikasikan pada ruang dengan cukup rapi. So, I must stop complaining and start to looking for a good sight.๐Ÿ˜€

Udah ah cari inspirasinya. Packing lagi ah.. masih banyak banget….

Ngomong-ngomong, kamu suka yang mana?๐Ÿ˜€

4 comments

  1. saya suka nomor 2 dan 3 dari bawah, kesan lapangnya. Tapi sofanya pengen yang lebih empuk. kecil gpp tp empuk. trus ada karpet lembutnya.. huaaaa:mrgreen:

    Salam kenal, nyonyabuku… pantes udah lama “ngilang” ternyata sibuk packing. Selamat pindahan๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s