Cinta Sepanjang Amazon

cinta sepanjang amazon

Sudah lama sekali tak membaca Mira W. Itu memang bacaan saya zaman SD, gara-gara tak banyak buku anak dan saya merangsek rak buku si mama. Maka ketika disodori Cinta Sepanjang Amazon, saya amati sampulnya. Wuidih full bunga begitu. :p

Dan setelah membaca cepat –ini memang jenis light reading, bukan saya yang skimming–saya jadi ingat masa kecil. Karena ceritanya, ya khas Mira W lah. Cinta. Romantisme. Tapi saya jadi bisa mengapresiasi..

Ditulis dengan alur yang maju dan enggak rumit, entah kenapa justru Mira berhasil tuh menampilkan kompleksitas persoalan antar tokohnya.

Tokoh cerita ialah Vania dan Aries. Vania perempuan yatim piatu, anak haram. Bertumbuh menjadi sosok mandiri dan tegar. Pintar, langganan dapat beasiswa dan dipercaya berbisnis warnet di lingkungan kampusnya.

Adapun Aries, anak konglomerat. Manja dan menggampangkan hidup. Aries bersahabat dengan Guntur, anak satpam keluarga yang juga jadi bodyguardnya.

Lalu Aries jatuh cinta pada Vania. Ditentang keluarga, Aries nekat didepak dari keluarga besar. Cinta rupanya mampu membuat Aries terbang keluar dari zona nyaman. Sayang, Aries tak punya bekal. Bahkan ketergantungannya pada Guntur membuat mereka tetap tak terpisahkan.  Guntur tidur di sofa di rumah kontrakan Vania.  Makan juga diurus Vania.

Terang saja Vania jengkel. Penghasilan yang tak seberapa harus dibagi kepada Aries dan Guntur. Sampai suatu ketika, dalam kondisi yang berantakan pascaAries meninggalkan rumah setelah pertengkaran, Guntur memperkosa Vania. Bertemu lelaki yang tak manja seperti Aries, rupanya membuat Vania menikmati perkosaan itu, meski kemudian merasa bersalah.Begitu juga Guntur yang merasa berdosa.

Dia lantas mencari Aries dan mendapati suami Vania itu di bar. Karena mabuk, Aries merusuh. Terjadi pertengkaran. Guntur melindungi Aries sampai perut Guntur tertusuk belati. (belakangan, saya curiga Guntur sengaja bunuh diri)

Dan Guntur mati. Vania hamil. Lantas persoalan terus datang, diawali kesalahpahaman dan ketidak beranian mengakui kesalahan.  Muncul lah tokoh-tokoh lain, dengan persoalan yang saling berkelindan. Akhir cerita, hehehe.. baca sendiri ah!

Saya bukan pembaca Mira. Tanpa bermaksud menyanjung bukunya setinggi langit lantaran dibayar jadi pembicara, saya memang harus mengakui, penuturan Mira sangat mengalir. Well, kualitas hasil 42 tahun menulis tentu enggak bisa bohong lah ya.

Mira mengaku, tulisan-tulisannya tak pernah dalam. Tapi saya suka caranya membangun konflik. Sabar dan tak memaksakan. Saya bisa mengerti kenapa Aries marah atau kenapa Vania memilih tindakan tertentu, barangkali lantaran Mira sabar membangun karakter tokoh.

Ada beberapa adegan yang terasa ‘jumping’. Agak mengganggu tapi bisa diupayakan untuk diabaikan. Saya sepakat dengan komentar sutradara Dedi Setiadi yang bersiap mengolah kisah ini ke layar lebar: alur yang jelas dan runtutan logika menjadi kekuatan novel Mira.

Saya sendiri merasa novel itu seperti kerangka besar sebuah cerita. Karena tidak detil, barangkali malah memberi ruang keleluasan tafsir. Dan memang, cerita yang ringan membuat novel-novel Mira laris diangkat ke layar lebar ataupun televisi. Dari 78 novel, 40 diantaranya difilmkan dan disinetronkan. Wuidihhhh …..mak nyus yaaa…

Jadi inget kata Clara Ng, entah dalam kesempatan apa, bahwa menjadi penulis di Indonesia itu bisa hidup juga kok. Asal konsisten berkarya. Well, enggak semua pengarang seberuntung Andrea Hirata diguyur royalti sampai hitungan miliar kan?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s