Pembaca Romantis dan ereader-nya

 

iRiver Story———Foto:CNet Asia

Sudah enam bulan ini saya membaca teks digital yang tersimpan di dalam ereader. Kebetulan saya punya iRiver story.

So far, baik-baik saja. Dugaan saya dulu, bahwa saya akan tergagap-gagap ternyata enggak terbukti. Dan sekarang malah bikin saya mikir, buku (dalam bentuk fisik) ialah bagian dari interior rumah.

Di rumah kecil yang saya tempati sekarang, mungkin ada sekitar  1.000-an judul buku. Belum banyak dan belum masuk kualifikasi mutu yang ketat –entah kenapa saya jarang tega menyortir buku–. Akibatnya rak-rak buku itu sudah memenuhi ruangan.  Saya sengaja meletakkannya di ruang depan, ruang yang paling besar di rumah.

Dan buku sebanyak itu sebetulnya cukup disimpan dalam iRiver. Soalnya tersedia slot untuk memori tambahan. Memori internalnya saja bisa membuat kita membaca sampai 11 ribu halaman. Ya kira-kira 55 buku, masing-masing  setebal 200 halaman. Nah, Bayangkan, berapa banyak ruang yang bisa dihemat. Dan tentu saja, pohon yang bisa diselamatkan jika tak perlu mencetak buku.

Tapi mentang-mentang punya ereader,  saya enggak ekstrim menolak buku fisik kok.  Sebab, ketika berada di perpustakaan pribadi saya yang kualitasnya masih segitu-segitu aja, rasanya kok ya adeemmmmm banget memandangai punggung-punggung buku itu berderet di rak. Nyaman. Senang. Bahagia, gitu.

Akhirnya punya ereader cuma membuat saya lebih selektif memilih buku yang akan dibeli. Yang bisa dibeli di papataka ya mendingan beli aja. Apalagi yang bisa diunduh dari manybooks , gutenberg ataupun theebooksbay (Hm.. ada yang tau link lain untuk unduh buku gratisan? :D)

Saat bertemu @bookishglam di peluncuran buku G30-S 1965 karangan tapol orde baru Tan Siaw Ling, kami bicara tentang perasaan itu. Dia baru punya Kindle, berkat nitip teman,  cuma Rp1.5 juta. Girang dia bercerita tentang ‘tak apa-apa’ juga kok membaca teks digital. “Ternyata enggak apa-apa kok.  Dan jadinya sih, aku lebih ke ‘membaca’ nya, bukan ke ‘buku’ nya.Mmmm, enggak tau ya… aku rasa, buku itu sendiri ialah sesuatu yang romantis aja.”

Well, kalau kamu bagaimana? Suka buku fisik atau digital?😀

 

4 comments

  1. aku belum pernah coba baca di e-reader. Tapi rasanya sulit meninggalkan buku secara fisik, seperti kata Nyonya buku, memandang punggung buku yg berderet-deret rapi itu membuat hati rasa nyaman, senang, dan bahagia, dan lagi aku suka bau kertas buku…:D

  2. Kalo saya sih masih lebih suka buku fisik. Soalnya saya kadang kalo baca itu suka balik2 ke halaman sebelumnya, kan gampang tuh klo di buku fisiknya. Tapi klo baca di ebook reader, mau balik2 halaman kan susah. Bukan berarti saya nolak ebook sih. Saya juga senang kok baca ebook. Apalagi yang gratisan. Bisa ngehemat uang banyak banget tuh.😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s