Buku Terbaik sepanjang 2010

 

Foto: stock.xchng

Menjelang tutup tahun,  seperti biasa, daftar buku-buku terbaik sepanjang 2010 bermunculan. New York Times, Guardian, Publisher Weekly sampai Amazon punya versi masing-masing. Bagaimana dengan Anda?

Sebetulnya, buat apa sih daftar-daftar itu? Sekadar seru-seruan atau bisa jadi guidance?

Saya sendiri, suka memanfaatkan data-data tersebut untuk menghemat waktu. Faktanya, emang enggak semua buku pantes dan perlu dibaca.  Walau akhirnya ini jadi perkara selera, minimal daftar itu membantu juga sih untuk memberi arah. Jadi biarlah media-media itu membuat daftar dengan segala penghakiman, intuisi dan ‘feeling’.

Tahun ini,
New York Times merilis 100 notable books 2010
Guardian punya best books of 2010
Publisher Weekly juga ngeluarin daftar best books of this year
Time juga punya daftar mereka sendiri
Rangkuman best list di Utne Readers

dan semua daftar itu jadi semacam ‘daftar belanja’ deh.. :p

Tentu saja, daftar-daftar itu tidak seharusnya diperlakukan semacam ‘panduan suci’.  Lha kadang-kadang, adaaaa aja buku yang overrated. Di tataran lokal misalnya, saya ternyata enggak suka baca Ayat Ayat Cinta yang bestseller itu.  Atau Marmut Merah Jambu nya Raditya Dika, misalnya. Hal itu berlaku juga sebaliknya. Ada buku-buku yang tidak tampak dalam jangkauan radar meski berkualitas. Kalau sudah begitu,  ya sudahlah. Biarkan nasib baik yang selanjutnya mempertemukan saya dan buku underrated itu.. :p

Tahun ini, sebetulnya saya  tidak banyak membaca  (ugh). Jadi  tidak punya daftar ‘terbaik’ untuk dibagi. Selain sedikit membaca buku-buku terbitan tahun ini, saya juga lagi sering-seringnya membaca buku-buku klasik –efek mengunduh ratusan buku domain publik– hehe. Jadi, ya gitu.. buku terbitan tahun ini yang berhasil saya baca enggak bakal lebih dari 30an judul saja.

Untuk fiksi, buku yang paling mengikat diri saya tahun ini ialah Rahasia Selma karangan Linda Christanty. Untuk non fiksi, saya berhari-hari disandera Connected (Nicholas A. Christakis dan James H. Fowler), serta buku The Grand Design (Stephen Hawking)  yang belum juga kelar saya baca!

Mmm..ada satu lagi sih temuan baru yang menarik. Gara-gara ke Ubud Writers and Readers Festival 2010,  saya jadi baca buku si penulis Israel Etgar Keret.  Buku kumpulan cerpen pertamanya, The Bus Driver Who Wanted to Be God & Other Stories, saya dapatkan murah meriah di toko buku bekas Ganesha, Ubud.  Itu buku yang menarik, tapi enggak bisa masuk list yaaa karena bukan terbitan tahun ini.😀

Eh, kamu punya list favorit sendiri? pengen tau donggg😀

Lima penulis dan lima perupa berkolaborasi menciptakan cerita dan ilustrasi bagi buku anak. Hasil karya kolaborasi mereka dipamerkan di Pusat Kebudayaan Perancis, Jakarta, 10-16 Desember 2010. 

David Tobing

NUKILA Amal, Daniella Praptono, Linda Christanty, Ayu Utami dan Warih Wisatsana adalah lima penulis yang turut serta dalam proyek kolaboratif gagasan Dewan Kesenian Jakarta itu.  Ada pun para perupa yang terlibat ialah Hanafi, Ade Darmawan, Yayak Yatmaka, Wara Anindyah dan A.S Kurnia.
Dalam proyek kolaboratif tersebut Nukila Amal berpasangan dengan Hanafi, Daniella Praptono berkolaborasi dengan Ade Darmawan, Linda Christanty tandem dengan Yayak Yatmaka, Ayu Utami bermitra dengan Wara Anindyah, dan Warih Wisatsana ditemani AS Kurnia.
“Gagasan mengadakan proyek kolaboratif perupa dan pengarang Indonesia berangkat dari keprihatinan kita atas buku-buku anak sekarang,” terang Ketua Program DKJ Dewi Noviani, di Jakarta, pekan lalu.
Dia mengacu pada kondisi saat ini, ketika buku-buku anak di Indonesia lebih didominasi oleh produk-produk bacaan Jepang. Ini belum bicara tentang permainan elektronik semisal Playstation atau <i>game-online<p> yang semakin digandrungi anak-anak.
Berangkat dari situasi demikian, pada Februari 2010, DKJ mulai menggagas upaya membangkitkan gairah buku-buku anak di Indonesia.
“Kalau kita pikir, kita punya perupa banyak, pengarang juga banyak, lantas mengapa buku anak kita tidak ada? Nah, kita ketemu ide, bagaimana kalau kita adakan proyek ilustrasi dan cerita anak di mana orang-orang yang terlibat adalah perupa dan pengarang. Ide ini ternyata mendapat sambutan dari perupa dan pengarang,” jelas Novi bersemangat.
Maka, mulailah DKJ menawarkan tantangan proyek kolaboratif ilustrasi dan cerita anak kepada perupa dan pengarang. Sayang hanya diikuti lima pasang penulis dan pengarang. Novi mengakui keterbatasan waktu menjadi penyebabnya. “Tapi mudah-mudahan dari proyek ini kita dapat memproduksi buku-buku anak yang berkualitas,” serunya optimis.

Sarat pesan
Secara sepintas, pasangan yang paling siap menghadapi ajang pementasan cerita dan ilustrasi buku anak adalah pasangan Nukila Amal dan Hanafi. Keduanya berhasil menciptakan tokoh Mirah Mini. Kisah Mirah Mini menceritakan kepedulian seorang anak atas kehidupan tapir yang semakin tergusur karena penggundulan hutan. Berikut petikan cerita Mirah Mini:
<i>Namaku Mirah Mini…/…Aku punya teman tapir…/Kata mama, tapir adalah hewan langka. Jumlahnya tidak banyak, sebab pohon-pohon di hutan semakin habis ditebang…/”Tapir boleh tinggal di rumah kita. Semua tapir boleh.” Begitu kataku pada Mama.<p>
Kisah yang ditawarkan Nukila memang berfungsi majemuk. Selain membangun imajinasi anak, kisah dengan tokoh utama Mirah Mini pun menjadi wahana menyelipkan pesan kepedulian terhadap lingkungan.
Jika Nukila dan Hanafi menawarkan imajinasi petualangan, pasangan Linda Christanty dan Yayak Yatmaka menawarkan imajinasi perlawanan. Cerita anak karya Linda Christanty berjudul <i>Mencari Ayah<p> berisikan narasi seorang bocah yang menunggu kedatangan ayahnya. Salah satu momen yang terekam di benak bocah perempuan itu adalah pengalaman dia bersama ayahnya melihat pertunjukkan gajah.
Tetapi, ayah yang ditunggu tidak datang karena ayahnya sudah menjadi korban kekerasan tentara. Sepintas memang gagasan cerita Linda sangat asing dari cerita anak konvensial yang lebih banyak mengutamakan arus <i>’happy ending'<p>.
Ada lagi Ayu Utami dan Wara Anindya yang berkisah tentang petualangan Sisi dan Aang di waktu malam hari. Petualangan domestik Sisi dan Aang di malam hari berhasil menemukan Micak alias Cicak, Atok alias Kodok, Lula alias Ulat dan Mumus alias Musang.
Pasangan Warih Wisatsana dan AS Kurnia mengeksplorasi gagasan yang berbeda. Mereka menggunakan cerita anak dalam medium puisi yang berjudul <i>Ambang Petang<p>. Ada pun pasangan Daniella Praptono dan Ade Darmawan mengambil tema seputar tangan kiri. Tema tersebut berangkat dari adanya stereotip negatif dalam kultur masyarakat Indonesia terhadap tangan kiri.

Tantangan ide
Bagi Hanafi, proyek kolaboratif perupa-pengarang demi ilustrasi dan cerita anak menawarkan petualangan tantangan kreatifitas yang menarik.
“Saya dan Nukila selalu bertukar gagasan, membangun konsep,” terang Hanafi.
Proses kreatif demikian jarang ada dalam umumnya buku-buku anak. Biasanya, buku anak yang ada mendasarkan ilustrasi pada cerita yang sudah dibuat oleh penulis tertentu.
Hanafi mengaku bahwa kesulitan utama agar lulus dari tantangan proyek kolaboratif ini adalah bagaimana menemukan jalan masuk ke dunia imajinasi anak. “Kita mencoba memasuki dunia anak melalui <i>self-memory<p> kita,” terang Hanafi.
Hanafi lantas berpaling pada memori masa kecilnya. Dari refleksi demikian, Hanafi menemukan idiom khas dan imajinatif sekaligus personal untuk mewujudkan ilustrasi anak. Idiom rupa itu adalah telur asin.
Sekali waktu tampak Hanafi berdiri bergeming di hadapan lukisannya yang menggambarkan idiom rupa telur asin yang diberi ornamen semacam ‘wig’ berwarna oranye. Pada lukisan yang lain, yang menggambarkan sosok tapir yang gemuk dan menggemaskan, tampak hadir gambar-gambar telur asin di sekitar tapir.
“Dulu, telur asin adalah sesuatu yang berharga bagi saya. Kalau biasanya, makan tempe dan kerupuk. Tapi, di hari piknik, kita mendapatkan telur asin. Sebetulnya, yang menarik adalah bukan pikniknya, melainkan telur asinnya,” ucap Hanafi serius sambil tersenyum.
Dengan meneropong masa kecil, Hanafi berhasil menemukan dunia anak, dunia ‘insting prima’, dunia yang belum mendapat beban norma dan belum diganduli beban ketertiban-ketertiban. Dan dengan bekal itu, ia membekali karangan Nukila Amal. Jadilah <i>Mirah Mini: Yang Ajaib-Ajaib<p>. (M-4)

2 comments

  1. buku terbaik 2010 versi saya adalah … Amplop Merah Muda untuk Pak Pos, Kanti W. Janis … Karena seperti itu satu-satunya buku terbitan tahun 2010 yang saya baca pada 2010.

    Lainnya buku purba semua😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s