No Nigger, just Slave

Pict: voices.washingtonpost

Menurutmu, perlu enggak sih mengganti kata di buku yang terbit di masa lalu agar cocok dengan kondisi saat ini?Tidak cukupkah dengan keterangan pengantar, misalnya?

Seperti nasib bukunya Mark Twain. Novel klasik Twain berjudul The Huckleberry Finn kini ‘didandani’ sesuai kondisi abad 21. Terbitan terbaru buku itu tidak lagi memuat kata nigger(negro), melainkan slave(budak).

Penerbit buku itu, NewSouth Books yang berbasis di Alabama, AS, telah mengganti 219 kata nigger yang tertulis dalam Adventures of Huckleberry Finn dengan kata slave. Menurut editor terbitan baru,  Alan Gribben dari Universitas Auburn,  menghilangkan kata nigger justru akan memperluas pembacaan dan studi atas kisah klasik Twain. Sebab selama ini, guru-guru Bahasa Inggris  tak semua nyaman mengajar karya Twain gara-gara kata-kata itu. Jadi kini, Adventures of Huckleberry Finn telah dibenarkan secara politik.

Aku sendiri merasa penghapusan kata-kata itu justru menghilangkan cita rasa kisah Twain. Buku itu telah dikorbankan, dijadikan tumbal, atau apalah, demi memenuhi ‘standar’ abad 21. Padahal dengan membaca aslinya, akan terasa betul bagaimana kondisi Amerika saat itu. Aku pikir cukup diberi pengantar dan pemahaman, bahwa buku itu bukan untuk mengobarkan kembali semangat rasisme dan diskriminasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s