Dongeng Rushdie kepada Anaknya

Pict: Random House

Akhir tahun lalu, buku terbaru Salman Rushdie terbit juga. Judulnya Luka and The Fire of Life.  Ceritanya cocok buat dikisahkan kembali kepada anak-anak. Karena memang Rusdhie sengaja menulis kisah ini untuk anaknya, Milan(13 tahun)

Kalau ada yang pernah membaca Haroun and the Sea of Stories (terbit 1990), nah buku terbaru Rusdhie ini memang sekuel kisah itu. Luka sendiri  adalah adik Haroun, berbeda usia 18 tahun.Kini Luka, 12 tahun, harus menjalani petualangannya sendiri.

“You’ve reached the age at which people in this family cross the border into the magical world. It’s your turn for an adventure—yes, it’s finally here!” kata Haroun kepada adiknya.

Petualangan Luka bukan petualangan sederhana, tapi penuh keajaiban. Luka berpetualang dalam dunia dongeng ayahnya, si tukang cerita Rashid Kalifa yang bergelar The Shah of Blah!Kalifa tertidur, nyaris mati, dan Luka harus membangunkan kembali ayahnya denganberpetualang di dalam dunia cerita Shah of Blah! –omong-omong, Rashid Kalifa yg tertidur lama itu cocok juga dengan kondisi Rushdie yang lama tak menulis buku semacam ini. Kisah Haroen dan Luka berjeda 20 tahun.

Ditemani dua piaraan istimewa, anjing bernama Bear dan beruang bernama Dog, Luka harus mencuri The Fire of Life demi menyelamatkan sang ayah. Dan begitu kita setuju berpetualang bersama Luka, semua tokoh dongeng yang pernah kita tahu, mudah sekali kita temui selama perjalanan itu. Plus, bertemu juga dengan ‘hero’ masa kini ala-ala terminator gitu. Plus….tukang sihir di dunia Harry Potter. Semuanya dicampur, jadi rada surealis gitu, berasa seperti nonton Imaginarium of Doctor Parnassus gitu deh.

Tentu saja, kisah-kisah dongeng klasik yang pernah kita tahu enggak mentah-mentah digelontorkan Rushdie begitu saja. Banyak twist-nya. Dongeng yang terus menerus diceritakan berulang kali bukan berarti harus selalu punya ending yang sama kan?

Dan Rusdhie pun terasa menyesuaikan kisahnya dengan situasi anak-anak sekarang yang akrab dengan play station. Dalam petualangannya, Luka bisa memencet tombol ‘save’ di setiap level. Jadi, kalau kelak ia gagal melewati rintangan pada level selanjutnya, Luka tidak perlu mengulang petualangannya dari awal. Hehehe..

Dari petualangan itu, Luka jadi belajar: dia tidak boleh serta merta mengikuti alur kisah dalam dunia dongeng ayahnya agar berhasil menuntaskan misi. Justru Luka harus menciptakan jalannya sendiri, berani memulai petualangannya sendiri, bahkan jika ia harus salah langkah dan mengulang lagi. Pesan yang manis, ya?😀

Aku suka buka ini.

Tapi jika harus membandingkannya dengan kisah Haroen, aku lebih suka kisah Haroen, sedikit.😀

Aku juga suka ama mainan kata-katanya Rushdie. —Jadi inget Arundhati Roy yang juga melakukan wordplay yang menarik dalam The God of Small Things.

Misalnya saat bertemu dengan koloni tikus, Luka dan bos tikus berdiskusi tentang bagaimana koloni itu membentuk pemerintahannya. Luka tanya “Who choses the Over-Rat?”. Si bos tikus menunjuk dirinya. ‘”It’s known as being Over-Rat-ed.” Got it?😀

Aku enggak tau, apa efek yang kudapatkan jika aku mengetahui kisah ini ketika masih bocah. Tapi membaca buku ini diusia 30-an, membuatku ingin menceritakan petulangan Luka (dan Haroen) kepada anak-anak kecil.. agar selera baca mereka bisa terselamatkan sejak dini. hehehe

Luka and The Fire of Life

  • Category: FictionLiterary
  • Format: Hardcover, 240 pages
  • On Sale: November 16, 2010
  • Publisher: Randomhouse
  • ISBN: 978-0-679-46336-8 (0-679-46336-4)
  • Btw, I have this story in epub format.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s