Book review

Resensi buku, dalam obrolan yang ringan saja.

Fantasy Fiesta

Setelah Harry Potter dan Lord of The Ring telah lama berlalu, aku enggak pernah lagi pegang buku fantasi. Sudah bertahun-tahun. Sampai Sabtu kemarin, di Warung Kopi Proklamasi yang cozy itu, seorang teman baru memberikan buku: Fantasy Fiesta 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010.

Baru kubaca hari ini, dan VOILA!! Penulis kisah fantasi kita tak kalah jago bercerita!

Tulisan pertama, karya Jaladara, bukan orang baru-baru amat di dunia kepenulisan. Ide ceritanya lekat dengan kisah-kisah zaman dulu ketika manusia dan binatang bisa berkomunikasi. Jaladara menuliskan serigala yang memperingatkan manusia untuk segera menyelamatkan diri dari kampung mereka. Namun manusia sempat salah sangka. Dikira mereka, serigala hendak mencelakaan warga — spoiler(!!)

Kisah ketiga, Candu Aksara. Tentang seseorang yang hobi makan buku dan koran. Idenya segar, agak witty juga, tapi jadi bikin aku mikir, kategori fantasinya dimana ya? Karena terasa seperti cerpen. But, the story is good. Dan jadi juara pertama Fantasy Fiesta 2010.

Kisah keempat, Boxinite. Feel kisah ini emang masa depan yang melompat jauh, tentang petarung dan ganjaran energi dan betina. Ya seperti jagoan dalam video game yang mendapatkan bonus uang ataupun nyawa jika sukses mengalahkan lawan di level tertentu.

Lainnya, masih ada 17 cerita yang mengusung ide dan warna kisah beragam. Menurutku sangat pantas dibaca. Sebab, ‘rasa impor’ kisah fantasi tidak lagi kentara ada disini. Asyik, menghibur dan dituturkan mengalir. Not bad lah ya.

 

 

Advertisements

Perempuan Perempuan Avianti Armand

Nama Avianti Armand, sebetulnya belum sekali ini kubaca pada halaman sastra di Kompas Minggu. Tahun lalu, aku ingat dia yang menjadi juara Cerpen Terbaik Kompas 2010.

Aku suka cerpen-cerpen karangan Avianti. Jadi ingat,  ia juga menerbitkan buku puisi. Tulisan Intan Paramadhita di Majalah Tempo cukup menarik minatku untuk membaca puisi Arvianti.  Makanya sengaja kusimpan di blog ini.

Menghapus Sebagai Mengingat

PEREMPUAN YANG DIHAPUS NAMANYA
Penulis: Avianti Armand
Penerbit: a publication, 2010

LEWAT Perempuan yang Dihapus Namanya, salah satu buku puisi Indonesia yang paling mengusik perhatian saya akhir-akhir ini, Avianti Armand merekonstruksi kisah-kisah perempuan dalam Perjanjian Lama. Saya memutuskan untuk menempatkan Avianti sebagai seorang pembaca. Dalam pengantarnya, Avianti sendiri melihat karyanya sebagai hasil dari proses “membaca lagi, menafsirkan lagi, merekonstruksi dunia dan kata-kata yang tersimpan dalam kitab.”

Maka, mulailah perjalanan saya, menyelami sekumpulan puisi naratif tentang nama yang tak asing: Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel. Saya sepakat dengan Avianti bahwa perempuan-perempuan dalam Perjanjian Lama sangat menarik, sebab mereka memang-bila boleh saya sederhanakan-brutal. Sebagian dari mereka terseret dalam kehancuran dan pertumpahan darah, bahkan mendirikan singgasana di atas genangannya.

Sebelum mereka, ada perempuan penggoda yang menurut legenda diciptakan lebih dulu dari Hawa dan berkhianat. Ia disebut dengan “nama-nama terlarang”, Lilith salah satunya. Ia ditemukan dalam gulungan dokumen Laut Mati, tapi tak ada jejak kehadirannya dalam Kitab. Nama Lilith muncul satu kali dalam Kitab Yesaya, tapi tak jelas apakah dia perempuan atau binatang malam.

Upaya menghilangkan Lilith tak pernah berhasil, sebab menghapus adalah juga menyisakan sesuatu. Inilah yang disebut Avianti sebagai lubang, yang terjadi “ketika mereka menggosok lembar-lembar papyrus tua untuk menghapus nama perempuan itu dari Kitab…” Lilith berada di ruang-ruang yang bocor, dan kita selalu menemukan jejak namanya dalam narasi tentang Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel, atau perempuan lainnya.

Melalui pembacaan ulangnya, Avianti membagi ruang-ruang tersembunyi itu dengan kita; lubang kembali mempertemukan kita dengan perempuan yang dihapus namanya. Di sana, kita dihadapkan pada Hawa yang, setelah memakan buah, mencelupkan diri tanpa takut dalam pengetahuan (kejatuhan?)-nya; Tamar yang dikira korban namun berkata, “Aku adalah pedang”; Batsyeba yang telah ambil bagian atas apa pun yang kita imajinasikan -“kekejian” atau “rasa bersalah”.

Jejak Lilith begitu tegas pada cerita Jezebel. Maka dibutuhkan upaya penghapusan yang lebih keras, tanpa ampun. Tak terpisahkan dari kerumitan hubungan agama dan politik, tubuh Jezebel si perempuan (asing) pemuja Baal adalah sumber kebencian. Puisi “Jezebel” diawali dengan lonceng kematian yang memanggil-manggil nama Jezebel, pepat oleh hasrat meniadakan jejak tubuh perempuan khianat. Avianti menggambarkan akhir hayat Jezebel sebagai berikut: Genap nubuat di luar Yizreel/ “Dicincang anjing daging Jezebel/ tinggal kepala dan kedua kaki/untuk santapan malam nanti.”

Kita merasakan teror yang tak putus-nafsu membunuh yang tak habis-habis-ketika bait di atas disandingkan, seolah tanpa patahan, dengan kutipan dari Kitab Raja-Raja: “-maka mayat Jezebel akan terhampar/ di kebun di luar Yizreel seperti pupuk/ di ladang, sehingga tidak ada orang yang/ dapat berkata: Inilah Jezebel.” Namun tubuh yang dihilangkan tak menjamin penutup yang koheren. Puisi Avianti menunjukkan bahwa lubang yang dihuni Lilith, penanda “yang bukan ilahi melainkan birahi”, tetap menganga, bocor di mana-mana.

Buku Avianti dapat kita sejajarkan dengan upaya para feminis Barat menelaah arketipe perempuan dalam kitab suci demi memahami bagaimana politik gender beroperasi dalam sejarah. Namun praktek pembacaan tak bisa diseragamkan, sebab ia ditentukan oleh kepentingan, ruang, dan waktu yang spesifik. Pertanyaan selanjutnya: bagaimana proyek pembacaan ulang ini kita tempatkan di Indonesia, hari ini? Satu kemungkinan melihatnya adalah bahwa saat fundamentalisme agama dan politik identitas menguat, proyek Avianti mengingatkan kita akan pentingnya mengkritik teks-teks fundamental dan membaca ulang apa yang kita bayangkan utuh, termasuk posisi kita sendiri.

Intan Paramaditha, penulis

diambil dari laman Majalah Tempo. Silahkan klik tautan ini.

69 Cara Asyik Menghadapi Wartawan

Judul: 69 Panduan Humanis Menghadapi Wartawan –dan riset terhadap 423 wartawan.
Penerbit: Penerbit Buku Lintas Batas
Kolasi: 138 hal +xiii

Seperti judulnya, isi buku ini semacam ‘do and dont’s saat menghadapi wartawan. Cocok untuk pelaku kehumasan dan narasumber yang peduli pemberitaan.

(more…)

Dongeng Rushdie kepada Anaknya

Pict: Random House

Akhir tahun lalu, buku terbaru Salman Rushdie terbit juga. Judulnya Luka and The Fire of Life.  Ceritanya cocok buat dikisahkan kembali kepada anak-anak. Karena memang Rusdhie sengaja menulis kisah ini untuk anaknya, Milan(13 tahun)

Kalau ada yang pernah membaca Haroun and the Sea of Stories (terbit 1990), nah buku terbaru Rusdhie ini memang sekuel kisah itu. Luka sendiri  adalah adik Haroun, berbeda usia 18 tahun.Kini Luka, 12 tahun, harus menjalani petualangannya sendiri.

“You’ve reached the age at which people in this family cross the border into the magical world. It’s your turn for an adventure—yes, it’s finally here!” kata Haroun kepada adiknya.

(more…)

What’s wrong with slow reader?

 

--Picture:corbis images

Saat menunggu jam main The Tourist di Blitz Central Park, 31 Desember lalu, aku sempatkan ke Gramedia. Buku Baca Kilat masih aja bertengger di rak buku laris. Aku beli, sekadar penasaran. Katanya kita bisa baca dengan kecepatan 1 detik per lembar. Dahsyat ya?

(more…)