Non Fiction

What’s wrong with slow reader?

 

--Picture:corbis images

Saat menunggu jam main The Tourist di Blitz Central Park, 31 Desember lalu, aku sempatkan ke Gramedia. Buku Baca Kilat masih aja bertengger di rak buku laris. Aku beli, sekadar penasaran. Katanya kita bisa baca dengan kecepatan 1 detik per lembar. Dahsyat ya?

(more…)

Advertisements

Gres: Duo Hippo Dinamis

Acara menarik di akhir pekan datang dari twitternya Trinity.

Eh, pas nengok jam, masih jam 3. Masih sempat ke Asemka(buat beli sepatu plastik ala crocs yang empuknya bikin takjub. hehehe)

Lagian tuan almanak kan ngebut bawa motornya. 😀 Jadi masih ada harapan lah ke GI.

Tapi.. telat sampai Grand Indonesia. Duh, udah rame banget. La wong ya sudah jam 5 kurang seperempat. Trinity terlihat di depan. Bersama Lala dan Erastiany.

Duo Hippo Dinamis, Penerbit BFirst, 130 halaman, 25 sm, Rp39.000

Duo Hippo Dinamis ialah sebuah trabvelog grafis. Menarik sekali. (ugh.. ide ini kepikiran dua tahun lalu tapi gag punya tukang gambarnya. hehe. dasar Nyonya Buku miss wacana saja!)

Dan ini jenis buku yang habis dibaca 15 menitan. Paling pol setengah jam kalo gag disambi nyupir mobil (lah iya lah). Sepanjang kurun waktu itu, Nyonya Buku ngakak-ngakak tuh bacanya.

Duo Hippo Dinamis (DHD)itu sebutan untuk KK dan DD. Si Trinity itu lah DD nya.

Dua-duanya gendut, ginuk-ginuk dan cuek bebek. Mereka doyan jalan-jalan dan berenang. Makanya dinamain dua hippo, soale kayak kuda nil. hihih.. itu statement mereka loh.

DD dan KK jadi semacam tokoh anti hero. Dan efek psikologisnya, ya mereka jadi ‘one of us’ bukan fantasi atau tokoh di awang-awang yang bisa jadi panutan.  Makanya, kisahnya pun jadi ‘one of our story’, perjalanan yang tidak selalu sempurna.

(more…)

The Man Who Loved Books too Much

The Man Who Loved Books too Much -- versi bahasa Indonesia diterbitkan Alvabet, Mei 2010. 300 halaman, 13 x20 cm, Rp59.900

Apa sih hal tergila yang pernah Anda lakukan untuk sebuah buku?

John Gilkey rela masuk penjara berkali-kali.

Ken Sanders menasbihkan dirinya sebagai bibliodick -detektif buku yang juga sangat mencintai buku– dan mati-matian menemukan kembali buku-buku.

Lalu Nyonya Buku? Hahaha.. Nyonya Buku cuma pernah puasa tiga hari seminggu, jalan kaki dari rumah ke kampus, buat ngeborong buku di pameran. hehehe.

Hummpf.. baiklah, Nyonya Buku sebetulnya juga pencuri buku. Buku-buku yang bertahun-tahun mejeng di rak perpustakaan tanpa satu pun yang meminjam, rasanya seperti menangis minta ‘diadopsi’.

Btw, thx to Allison Hoover Bartlett, she did a great project.

(more…)